Selasa, 06 November 2018

Kenapa Yusril Mendadak Dukung Jokowi?

Jokowi
Yusril Ihza Mahendra
"Keep your friend close and your enemy closer...." Sun Tzu

Mendadak Yusril Ihza Mahendra mengumumkan bahwa ia akan menjadi pengacara Jokowi-Ma'ruf Amin dan akan bergabung dalam Tim Kampanye Nasional.

Hal ini mengejutkan banyak orang dan agak mengherankan, karena selama ini Yusril selalu bersikap berseberangan dengan pemerintah. Apalagi ia menjadi pembela langsung dari ormas HTI yang dibubarkan pemerintah.

Ada apa dengan Yusril? Begitu pertanyaan yang ada di kepala.

Dan teori konspirasi pun bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa Yusril adalah "kuda troya" yang dikirim HTI untuk melakukan negosiasi kepada Jokowi. Atau juga Yusril adalah kiriman koalisi Prabowo untuk mengintip dan merusak gerak koalisi Jokowi dari dalam.

Yusril Ihza Mahendra sendiri adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang, partai yang tidak mempunyai kursi di DPR RI. Itulah kenapa PBB tidak banyak dianggap dalam koalisi Pilpres 2019 ini.

Tapi Yusril di politik beda dengan Yusril di hukum. Di politik dia boleh lemah, tapi bidang hukum dia adalah pakarnya. Pada masa pemerintahan SBY, Yusril bahkan mencetak banyak skor ketika harus berhadapan dengan pemerintah. "Skornya 7-0." katanya waktu itu sambil ketawa.

Kepakaran Yusril memang tidak main-main dan semua mengakui itu. Daripada melawan dia, lebih baik berkawan dengan dia. Setidaknya ketika berkawan, Yusril tidak akan menjadi lawan tangguh.

Lalu kenapa Yusril membela HTI?

Sebenarnya ini bukan masalah ideologi. Yusril pintar memanfaatkan "kasus" untuk menaikkan namanya ke pentas nasional. HTI cuma "kuda tunggangan saja", karena kasusnya menarik perhatian banyak orang. Bagi pengacara sekelas Yusril, dia profesional. Kalau klien tidak menguntungkan secara uang, harus bisa menaikkan nama.

Saya jadi teringat seorang Rektor dari universitas swasta terkenal menganalisa ketika saya sepanggung dengannya menjadi pembicara.

"Partai dan politikus di Indonesia itu tidak ada yang ideologis, semuanya cair," katanya. "Itulah kenapa Indonesia tidak bisa seperti negara lain yang ricuh karena menjadikan partai dan politik sebagai ideologi. Di Indonesia, semua adalah kepentingan. Konsep ini banyak buruknya, tapi ada baiknya juga. Inilah yang membuat negeri ini masih aman-aman saja." Dan para peserta semua ketawa membenarkan.

Jadi menghadapi sikap Yusril yang tiba-tiba berbelok arah, jangan pakai quote Sun Tzu, "Keep your friend close and your enemy closer."

Coba pakai quote Don Corleone dalam film The Godfather, "Its just business, nothing personal." Semua itu bisa dibicarakan bagaimana enaknya.

Seruput dulu kopinya.

Tagar.Id