Kamis, 20 Desember 2018

Bahar Smith dan Fenomena Kekerasan Atas Nama Agama dan Ulama

Bahar Smith
Bahar Smith dan Pengacara
Setahun setelah Mohammad Morsy dilantik menjadi Presiden, ketegangan terjadi di Desa Abu Musalem, Giza, Mesir Selatan, Juni 2013.

Benar saja, tidak lama kemudian terdengar berita pembantaian di desa itu. 4 orang diseret dari rumahnya, dan dihajar beramai-ramai sampai tewas. Apa pasalnya ? Karena mereka bermazab Syiah, sesuatu yang dianggap haram oleh mereka yang mengaku muslim.

Peristiwa itu adalah puncak dari ketegangan yang terjadi di Mesir pasca Presiden baru dari Ikhwanul Muslimin itu dilantik. Persekusi dan kekerasan terjadi di mana-mana sebelumnya, dan dilakukan dengan perasaan bahwa mereka sudah melakukan hal yang benar sesuai agama.

Ditambah kutipan ayat dan hadis oleh ulama-ulama radikal dari Ikhwanul Muslimin sebagai pembenaran, maka sempurnalah semua alasan untuk melakukan pembantaian.

Apa yang dilakukan oleh Bahar Smith dengan melakukan kekerasan kepada dua orang remaja sampai wajah mereka berdarah, dan diyakini oleh pendukungnya sebagai bukan sebuah kesalahan hanya karena dia dianggap cucu Nabi dan ulama, adalah akar dari radikalisme yang sedang berkembang.

Indonesia mirip dengan Mesir pasca Mohammad Morsy menjadi Presiden, dimana ada kelompok yang merasa boleh melakukan kekerasan, tanpa harus takut dihukum karena mereka berlindung di balik baju "ulama dan umat".

Di mana mengerikannya ?

Disaat seorang wakil rakyat bernama FZ membenarkan tindakan kekerasan Bahar Smith dan menganggap apa yang dilakukan polisi sebagai bagian dari kriminalisasi ulama dan seorang Cawapres bernama SU bicara bahwa "ceramah" Bahar Smith yang memaki-maki itu sebagai "kata yang bermakna", maka kita akan melihat bagaimana kelompok garis keras itu akan berlaku semena-mena jika kelak FZ dan SU berkuasa.

Dari peristiwa kekerasan yang dilakukan Bahar Smith dan dilindungi oleh FZ dan SU, kita bisa melihat bagaimana situasi Mesir ketika Mohammad Morsy berkuasa. Kelak kekerasan dilindungi oleh kekuasaan, dan polisi tidak bisa menangkap hanya karena dia "ulama". Dan karena ulama banyak pengikutnya, maka dibiarkan semua itu bahkan dibela hanya karena tidak ingin kehilangan suara.

Beruntunglah kita masih tinggal di era pemerintahan Jokowi, dimana kepolisian masih bisa tegas menangkap Bahar Smith dan menjadikannya tersangka. Karena jika tidak, insiden ini akan menjadi pembenaran kekerasan karena mereka merasa sudah melakukan sesuatu yang benar.

Perhatikan saja rekaman suara dari Bahar Smith yang beredar saat diperiksa dimana dia merasa tidak melakukan kesalahan dan status dukungan FPI kepadanya karena merasa Bahar Smith melakukan tindakan benar. Ngeri, bukan?

Itulah kenapa kita harus mencegah kekuasaan dipakai untuk melindungi kelompok tertentu yang melakukan aksi premanisme dengan baju agama. Karena ketika kita memberi mereka kesempatan, bisa dibayangkan kekerasan akan meluas dengan alasan membela ulama dan agama.

Sebulan setelah pembantaian para jemaah Syiah itu, rakyat Mesir gerah dengan ulah kelompok Ikhwanul Muslimin yang sering melakukan kekerasan kepada mereka.

Mereka akhirnya bersatu menggulingkan Morsy, yang dulu mereka pilih hanya karena dia diprogandakan sebagai "pemimpin Islam". Rakyat Mesir sadar, bahwa mereka salah memilih dan tidak ingin kesalahan itu berbuntut panjang. Gulingkan sekarang juga atau mereka akan terus menderita selama Morsy berkuasa.

Tetapi itu mereka lakukan setelah jatuh korban-korban nyawa.

Apakah kita mau belajar dari Mesir atau terjebak pada kejadian yang sama? Atau kita menunggu korban dari pihak yang kita kenal baru kita sadar dan bertindak?

Secangkir kopi adalah sebuah pengingat, bahwa memilih pemimpin yang benar membutuhkan perjuangan.

Seruput.

Tagar.Id