Jumat, 28 Desember 2018

Gerakan Singkirkan Amien Rais

Partai PAN
Amien Rais
Sudah sejak lama kader Partai Amanat Nasional gerah dengan dominasi Amien Rais di tubuh partai.

Amien menjadikan PAN sebagai partai keluarga dan menempatkan banyak keluarga dan kroninya di tubuh partai. Keputusan partai pun sudah tidak murni lagi keputusan bersama, tetapi menjalankan keputusan Amien Rais.

Demokrasi yang digaungkan doktor politik lulusan Amerika ini saat bergabung menjatuhkan Soeharto ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Amien Rais dalam perjalanannya menganut sistem politik dinasti untuk menguatkan eksistensinya.

Dan sikap Amien Rais inilah yang membuat terjadi "pemberontakan" di tubuh PAN. Kader-kader potensial mundur satu persatu, dan itu terjadi di jajaran tertinggi partai. Terakhir Bendahara Umum PAN Nasrullah yang menyatakan mundur dari jabatannya.

Bukan itu saja, mantan pendiri PAN pun membuat surat terbuka yang isinya minta Amien Rais mundur dari PAN. Mereka di antaranya adalah Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad. Ada keresahan tinggi dari mereka baik yang sekarang di luar maupun di dalam, akan nasib PAN ke depan.

PAN di tangan Zulfikli Hasan besan Amien Rais ini memang sedang hancur-hancuran. Menurut survei LIPI, PAN diprediksi tidak akan lolos Parliamentary Threshold karena hanya mendapat 2,3 persen suara dari minimal 4 persen yang diharuskan. Bahkan LSI Denny JA lebih sadis lagi, PAN hanya mendapat 1,4 persen. Kalau begini terus, PAN bisa tidak punya gigi di 2024 nanti.

Anjloknya suara PAN kemungkinan karena blunder-blunder Amien Rais dalam pernyataannya di media sosial. Amien selalu membuat panas situasi dan membawa-bawa agama ke dalam politik yang sama sekali tidak membuat situasi menjadi lebih dingin. Dan PAN yang dulunya dianggap partai reformis ternyata harus menanggung malu karena cenderung menjadi partai yang tidak relevan karena membawa nama Tuhan dalam politik.

Apalagi sesudah Amien Rais bicara menjewer Ketua Umum Haedar Nasir karena tidak mendukung untuk harus memilih Prabowo di Pilpres 2019 nanti. Makin emoh lah warga Muhammadiyah mengakui PAN sebagai partai perwakilan organisasi mereka karena dianggap menghina kebijakan yang diambil oleh petinggi Muhammadiyah.

Bahkan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah yang baru terpilih, Cak Nanto, berkata, "Kalau mau jewer, jewer semua pengurus Muhammadiyah. Karena keputusan Muhammadiyah adalah keputusan organisasi bukan individu."

Cak Nanto adalah Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah yang berhasil menyingkirkan calon Amien Rais, Fanani, yang dianggap Amien sebagai penerus Dahnil Anzar. Pemilihan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah bisa dibilang adalah titik pertama kehancuran dominasi Amien Rais di tubuh organisasi muslim besar itu.

Bagaimana nasib PAN ke depan?

Semua tergantung partai itu apakah mau mengubah diri kembali menjadi partai yang sesuai dengan aspirasi rakyat melalui kadernya atau hanya menjadi corong Amien Rais dan keluarganya.

Biarkan secangkir kopi yang menjawabnya.

Seruput..

Tagar.Id