Kamis, 13 Desember 2018

TUHAN, AKU CEMBURU PADA BUYA

Tokoh
Denny Siregar dan Buya Syafii Maarif
Tamu yang kutunggu itu datang..

Langkahnya masih sigap di usianya yang berada di angka 83. Wajahnya yang bijaksana seperti menerangi ruangan tempat kami berada. Ia Buya Syafii Maarif, seorang tokoh besar yang masih dimiliki Indonesia.

Aku menunduk mencium tangannya. Sungguh aku kagum padanya sekaligus malu. Ia begitu sederhana. Datang sendirian dengan batik hijau dan tas hitam yang dijinjingnya tanpa pengawalan. Bajuku lebih bagus dari apa yang dipakainya, tapi namanya jauh lebih besar dari yang kupunya.

Kesederhanaan beliau yang melegenda ternyata bukan sekedar cerita. Dan aku berhadapan dengannya, seperti berhadapan dengan cermin yang menamparku berkali-kali, "Hei, kamu bukan siapa-siapa dibandingkan dirinya. Berkacalah dengan kesombongan yang selalu kau bawa.."

Tuhan, aku cemburu pada Buya..

Pada usianya yang jauh dari muda dan tubuhnya yang tidak mampu melawan renta, cara berfikir beliau masih sangat jernih dan tajam. Caranya mengungkapkan banyak hal menunjukkan ketinggian ilmunya, tetapi tetap dengan bahasa gamblang yang menunjukkan kerendahan hatinya.

Tubuhku mengecil dihadapannya, tidak mampu berkata selain mendengarkan petuahnya yang menyejukkan dan selalu membawa nilai. Ia seperti air tenang yang menyejukkan ditengah kepungan panasnya hawa nafsu para penjual agama yang berteriak-teriak menjajakan dagangan untuk perutnya.

Sore ini tidak akan pernah kulupa. Akan kuceritakan dengan bangga kepada anak-anakku bahwa ayahnya pernah bertemu seorang manusia yang selayaknya menjadi panutan banyak orang.

Muhammadiyah seharusnya bangga melahirkan seorang pemikir seperti Buya dan menauladani sifat-sifatnya. Buya dicintai banyak orang melampaui batas-batas ras, suku dan agama. Dan betapa indahnya membaca banyak salam disampaikan kepadanya. Semua sayang padanya

Waktupun cepat berlalu dan tidak terasa secangkir kopi tandas tanpa sisa. Buya pamit tanpa melayani permintaan berfoto banyak orang. Ia tidak ingin tampil dalam panggung apapun juga, cukuplah ia dikenang karena hasil karyanya bukan karena dirinya. Itu lebih abadi dari apapun juga.

Sehat selalu, Buya. Salam hormat selalu.

Dariku
Yang cemburu padamu.