Selasa, 22 Januari 2019

BELAJAR MEMAHAMI LANGKAH JOKOWI

Deradikalisasi
Umar Patek
Nama Umar Patek pasti tidak asing lagi. Mendengar namanya saja darah mendidih..

Umar Patek adalah pelaku bom Bali I tahun 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang. Ia adalah anggota Jamaah Islamiyah yang paling dicari pemerintah AS sampe Filipina. Bahkan Amerika menjanjikan 1 juta dollar buat mereka yang membawa kepalanya.

Tapi itu dulu..

Umar Patek sudah mendapatkan program deradikalisasi, atau pencucian otak kembali supaya ia bersumpah setia pada Pancasila dan NKRI. Ia dirangkul bukan disiksa oleh BNPT dan Densus 88.

Dari Umar Patek lah, polisi bisa mendapat gambaran jaringan JI yang sangat rumit berupa sel-sel terputus. Dengan informasi ini, polisi berhasil mencegah banyak bom bunuh diri. Umar Patek pernah menjadi pengibar bendera merah putih dalam upacara kemerdekaan RI.

Program deradikalisasi selama ini sudah membuat banyak teroris yang dulu ganas, akhirnya kembali menjadi warga negara Indonesia. Mereka malah menjadi tangan pemerintah untuk menyerukan kembali rekan-rekannya supaya tidak menjadi teroris.

Lalu, apa yang salah dari program pembebasan bersyarat Abu Bakar Baasyir oleh Jokowi ? Catat ya, bersyarat.

Ia merangkul dengan alasan kemanusiaan, selain karena secara hukum Baasyir sudah boleh dibebaskan, untuk menunjukkan bahwa negeri ini bisa menerimanya kembali jika ia mau mengikuti syarat-syarat yang ditentukan. Syarat yang utama adalah setia pada Pancasila dan kembali pada NKRI.

"Tapi, abang kan tidak merasakan penderitaan orang di Bali yang kehilangan banyak saudara karena bom itu.."

Kalau kita selalu kembali pada masa lalu, tentu negeri ini tidak akan pernah seindah ini. Jika Umar Patek pelaku bom Bali disiksa sampe mati, tentu polisi tidak akan mampu membongkar jaringan JI yang sangat rapat dan rahasia itu. Jika tidak ada program deradikalisasi, tentu akan lebih banyak lagi bom bunuh diri yang menghantam Indonesia tanpa kendali.

Catat lagi, di Irak sempat seminggu sekali terjadi bom bunuh diri. Di Suriah, di Afghanistan juga begitu. Di Indonesia, meski ada beberapa kejadian bom bunuh diri, tetapi situasi masih jauh lebih terkendali dari negara2 Arab sana. Ini karena program deradikalisasi.

Mari kita doakan saudara-saudara kita yang menjadi korban supaya mereka mendapat tempat yang layak disisi Tuhan. Pengorbanan mereka tidak sia-sia, justru mereka adalah pahlawan karena mencegah banyak korban lain.

Merangkul Abu Bakar Baasyir bukan berarti tunduk pada terorisme, tetapi justru itulah bagian dari pencegahan terorisme. Dari Baasyir, dedengkot teroris Indonesia, akan banyak dikorek jaringan rahasia teroris di Indonesia.

Terorisme tidak akan mati, dengan dibebaskannya Baasyir. Tetapi setidaknya kita bisa memetakan banyak hal sebelum mereka beraksi kembali.

Saya lumayan mengerti program ini karena pernah mengikuti mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam memanusiakan para teroris supaya mereka bisa berbicara pada banyak orang untuk tidak mengikuti jalan salah mereka.

Karena itu, sedikit banyak, saya paham dengan apa yang Jokowi lakukan terhadap Baasyir. Bukan karena saya selalu membenarkan apapun tindakan dia, atau menjadi penjilat yang dibayar untuk memujinya.

Melihat sesuatu itu harus utuh, jangan sepotong-sepotong. Dalam membasmi terorisme juga ada langkah politik, tidak main hantam kromo. Kadang jalannya memutar panjang, supaya mendapat banyak informasi. Kalau tidak mengerti, lebih baik diam dan mengikuti, bukan malah teriak-teriak tanpa solusi.

Kapan-kapan kita minum secangkir kopi. Biar saya ceritakan kisah salah seorang mantan Komandan Densus 88, yang kerjaannya merangkul teroris dan membawanya ke rumahnya dengan segala resiko dan ancaman yang ada.

Ada dunia yang berbeda dengan dunia kita sehari-hari. Kita sulit memahami dunia mereka, tetapi begitulah yang terjadi..

Seruput kopi sore ini ditemani rintik hujan, memang nikmat sekali.

Artikel Terpopuler