Minggu, 20 Januari 2019

JOKOWI DAN SENI PERANGNYA

Buku
Buku Seni perang Jokowi
Untuk memahami bagaimana Jokowi, saya sampai harus terbang ke Solo..

Saya bertanya pada banyak orang tentang bagaimana cara dia memimpin waktu menjadi Walikota Solo. Dan semakin banyak bertanya, saya semakin kagum padanya. Pantas, warga Solo sayang padanya..

Salah satu model yang menggambarkan bagaimana cara Jokowi menuntaskan masalah adalah pada waktu ia memindahkan pedagang barang bekas di Banjarsari.

Puluhan tahun pedagang itu ada disana dan tidak ada satu walikotapun yang berani memindahkan mereka dari sana. Solo gampang membara, jangan pernah diusik sedikit saja..

Apa yang dilakukan Jokowi ?

Ia berdialog berbulan-bulan lamanya, mengajak makan mereka, bercanda dengan mereka. Bukan hanya itu, ia memberi pengertian pada mereka bahwa ia harus mengembalikan kota sesuai fungsinya. Sesudah 7 bulan lamanya ( 7 bulan broo..) akhirnya ia berhasil merelokasi pedagang barang bekas itu.

Kisah itu saya tuliskan di buku terbaru saya "Seni Perang Jokowi" yang bisa dipesan lewat Ugi di 0819-0978-4456 (sekalian promosi)

Saya menganggapnya seni perang, karena Jokowi memang memainkan strategi memutar dalam mengambil kebijakan kontroversial. Ia tidak main hantam, ia sabar, ia strategis, ia cermat layaknya seorang tukang kayu mengukir meubelnya.

Begitu juga ketika ia menjadi Presiden, ia mengambil model strategi yang sama.

Apa bedanya warga Solo dan seluruh rakyat Indonesia dalam melihat apa yang dilakukan Jokowi ? Warga Solo percaya padanya, dan saat pemilihan Walikota kedua Jokowi dipilih oleh 90 persen warga Solo. 90 persen, menang mutlak.

Jadi, percayalah padanya dalam membereskan radikalisme dan terorisme yang sudah berakar di masyarakat kita. Kita pengen semua sempurna sesuai ukuran kita, pengen cepat selesai, tetapi kita lupa bahwa sesuatu itu ada proses-prosesnya.

Saya pun sekarang seperti warga Solo. Percaya bahwa apa yang dilakukan Jokowi adalah yang terbaik, hanya saya perlu sabar dalam memahaminya dan baru tersenyum di akhirnya. "Oh, gitu toh maksudnya..."

Sesudah paham, saya tinggal seruput kopi dengan nikmatnya.

Artikel Terpopuler