Minggu, 06 Januari 2019

KITA LUPA BERTERIMA KASIH PADA JOKOWI

Joko Widodo
Terima Kasih Jokowi
"Kadang aku ini merasa jadi rakyat durhaka.."

Temanku tiba-tiba membuka pembicaraan ditengah diamnya kami saat sedang menikmati secangkir kopi.

"Kenapa ?" Tanyaku heran. Dia sejenak terdiam, lalu melanjutkan.

"Entahlah. Dulu aku sering berdoa, Tuhan berikan aku pemimpin negeri ini seorang yang jujur dan bisa membawa kepala kami tegak ketika berada di luar negeri. Aku sudah muak dengan perilaku korupsi dan kemunafikan dari para politisi.

Lalu diberikanlah seorang Jokowi. Orang yang dari fisiknya membuatku ragu, benarkah dia pemimpin yang kuat dan bisa membawa negara ke arah yang lebih baik ?

Perkiraanku ternyata salah besar. Jokowi dengan berani membubarkan Petral, sarang mafia migas yang kaya raya dengan omzet ratusan triliun rupiah. Dia juga mencabut subsidi BBM yang membuat negeri ini selamat dan tidak terpuruk seperti Venezuela. Dia berantas mafia pupuk dan pangan meski dihajar kiri kanan.

Dia bubarkan HTI, organisasi ganas yang sudah mewabah ke segala lini. Dan dia ambil Freeport, dengan resiko dia dijatuhkan oleh negara besar yang sejak lama berkuasa.."

Aku termenung. Kuseruput kopiku. Temanku juga. Lalu aku bertanya, "Terus apa yang membuatmu merasa jadi rakyat durhaka?"

Dia menengok padaku. "Lihat, semua prestasi Jokowi. Bisakah semuanya kau hitung dengan jari? Dalam waktu 4 tahun dia bereskan semua hal, dia bangun keadilan sosial, dia revolusi banyak mental.

Tapi pernahkah ada yang mengucapkan padanya kata 'terimakasih'? Sekedar sebagai ucapan atas kerja kerasnya selama ini ?

Jokowi pasti tidak perduli hal itu, tetapi seharusnya kita tahu diri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dia dicaci, di fitnah sana sini, dihinakan tanpa henti, bahkan orang tua kesayangannya pun dibenci. Dia di demo, dihujat, dan kita diam saja tanpa bergerak untuk membelanya.."

Ah, benar juga. Mungkin kita kurang bersyukur.

Ketika Tuhan sudah mengirimkan orang yang benar, kita bukannya mempertahankannya dengan benar. Kita malah membiarkannya bertarung sendirian tanpa keinginan untuk memberikannya semangat, 'Bapak Presiden, jangan takut. Kami ada dibelakangmu. Teruskan kerjamu...'"

Kopi kami hampir habis. Dan temanku menyeruputnya sebagai bagian akhir.

"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih pada Ahok atas semua kinerjanya di Jakarta. Ia keburu dihajar sampai masuk penjara. Aku hanya bisa datang dan menyalakan lilin tanda duka cita. Sudah terlambat. Yang ada hanya tangisan belaka.

Aku tidak ingin terlambat lagi untuk kedua kali. Ingin rasanya turun ke jalan, membentangkan spanduk besar-besar bertuliskan, "TERIMA KASIH, JOKOWI" untuk rasa terima kasihku sebagai anak negeri yang punya harapan besar akan negara ini.

Dia pasti akan merasa bahwa kita bersamanya.."

Sudah waktunya pulang. Obrolan kami senja itu terus terngiang. Mungkin aku juga adalah rakyat yang durhaka. Yang tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih dan memberi dukungan, padahal aku sudah menikmati segalanya.

Jangan sampai ketika akhirnya keinginan turun ke jalan itu datang, aku malah membawa lilin tanda kedukaan yang mendalam..

Kuseruput kopi terakhirku dan berjalan pulang.

Artikel Terpopuler