Senin, 21 Januari 2019

SEMANGAT PERJUANGAN UMAT KATOLIK

Toleransi
Denny Siregar
Beberapa waktu ini saya sering diundang jadi pembicara di beberapa gereja Katolik.

Gereja Katolik memang sedang menggerakkan kesadaran umat Katolik akan arti dan semangat kebangsaan. Tema besar mereka kali ini, "Kita berhikmat, bangsa bermartabat". Tema ini mengacu pada sila ke 4 dalam Pancasila, yang mengutamakan dialog dalam setiap masalah.

Dalam setiap diskusi yang saya hadiri itu, saya melihat ada kegelisahan dari pihak Gereja dan umat Katolik. Kegelisahan ini muncul karena terlihat maraknya aksi-aksi intoleransi yang muncul di beberapa daerah.

Yang menarik, sikap gelisah ini malah memunculkan perlawanan dari umat Katolik untuk mulai mencoba merajut kembali nilai kebangsaan. Mereka bergerak, bukan hanya diam, pasrah dan menyerah, untuk mencapai kedamaian. Karena kedamaian itu tidak datang sendiri, ia harus diperjuangkan.

Dan dari gerakan ini muncullah sebuah video viral dimana pada saat malam Natal kemarin, seorang santriwati berjilbab memainkan lagu Malam Kudus dengan biola di Gereja Katholik Santo Petrus Kanisius Wonosari Yogyakarta. Sebuah usaha yang luar biasa dari umat Katolik dan Nahdlatul Ulama dalam memunculkan pesan-pesan persatuan dan kebangsaan.

"Viralkan terus kebaikan.." kata saya dalam sesi diskusi. "Karena setiap kita memviralkan persatuan antar umat beragama, musuh persatuan akan berteriak kepanasan.."

Dan seperti biasa, dalam diskusi itu, saya memulainya dengan menggambarkan apa yang terjadi di Suriah dan apa yang akan terjadi di Indonesia jika kita abai mengambil pelajaran dari mereka.

Pola-polanya sama, bahwa ini semua sejatinya bukan tentang agama, tetapi tentang permainan politik kotor yang mengatas-namakan agama demi kepentingan ekonomi mereka yang menungganginya.

Pada sesi terakhir, seseorang bertanya, "Apa yang harus kita lakukan menuju Pilpres ini, bang, sebagai pesan kepada umat Katolik ?"

Saya biasanya menyeruput kopi yang disediakan dulu sebelum mulai memberikan penekanan yang terpenting dari seluruh pembicaraan.

"Jangan golput.. Jangan pernah golput. Golput hanya dilakukan oleh pengecut yang tidak perduli pada nasib negara ke depan. Rapatkan barisan, dan gunakan hak dengan benar. Nasib negeri ini ke depan tergantung dari tangan-tangan yang memilih pemimpinnya dengan benar, karena tangan-tangan itu sesungguhnya adalah representasi dari tangan Tuhan.."

Situasi negeri ini sesungguhnya lebih membaik daripada tahun-tahun sebelumnya, karena mereka yang selama ini diam mulai bergerak mengeluarkan suara.

Dan secangkir kopi saya siang ini, layak saya persembahkan kepada umat Katolik di seluruh Indonesia, yang terus berusaha membangun perdamaian di tengah banyaknya tekanan..

Salute.

Artikel Terpopuler