Minggu, 17 Maret 2019

GELOMBANG KEBENCIAN TERHADAP IMIGRAN

Imigran
Demo
"Dulu kita pribumi ditindas, tapi sekarang sudah merdeka.."

Begitu pidato Anies Baswedan saat dilantik sebagai Gubernur DKI. Pidato itu membuat kontroversi dimana-mana karena istilah "pribumi" dimunculkan kembali padahal UU kita sudah menghapus diskriminasi ras dan etnis.

Ada yang aneh dari pidato Anies karena dia menisbatkan dirinya sebagai pribumi, padahal dia sendiri keturunan Arab. Istilah pribumi bukan lagi merujuk pada "penduduk asli" tetapi sudah mengarah pada kesamaan sosial, warna kulit sampai agama.

Situasi yang sama juga terjadi di belahan dunia barat sana.

Maraknya imigran dari berbagai negara dengan berbagai warna kulit yang ditampung pemerintah sana, memunculkan keresahan baru bagi warga yang merasa dirinya "pribumi".

Sama seperti Anies yang keturunan Arab tapi merasa pribumi, bule-bule dinegaranya pun merasa dirinya pribumi meski mereka sendiri bukan penduduk asli disana. Tetapi konsep pribumi mereka berkembang menjadi "white supremacy" atau supremasi kulit putih.

Ada kesamaan yang menyatukan mereka selain warna kulit, yaitu sama-sama kelas menengah pekerja, bergaji rendah dan kebanggaan sebagai tuan rumah. Suksesnya beberapa imigran secara ekonomi membuat kecemburuan tinggi. Ditambah lagi mereka harus membayar pajak besar yang digunakan untuk membiayai imigran yang kerjanya ongkang-ongkang kaki.

Masuknya imigran dari Timur Tengah terutama Suriah, menimbulkan masalah baru. Permasalahan tambah melebar kepada agama, ditambah perilaku sebagian imigran Timur Tengah yang muslim yang malah sibuk berteriak "kafir" kepada negara dan orang-orang yang menampung mereka.

Gesekan ini sangat terasa di beberapa negara seperti di Jerman misalnya.

Horst Seehofer, Mendagri Jerman yang baru bahkan sampai keluarkan statemen, "Islam tidak punya tempat di Jerman..". Pernyataan ini bagian dari mempolitisasi situasi karena perkembangan ketidaksukaan pada imigran beragama Islam menguat.

Bahkan di Australia, senator Fraser Anning, dengan terang-terangan menyatakan bahwa penembakan di masjid Selandia Baru oleh warga Australia adalah karena ulah imigran muslim yang memprovokasi. Pernyataan si senator ini memperkuat bukti bahwa api kebencian terhadap imigran muslim mulai berkembang di Australia juga.

Di Perancis, Marine Le Penn seorang tokoh dari partai Nasional, malah menyerukan anti imigran dan anti muslim. Pendukungnya banyak, loyal dan fanatik. Proposal dia saat bertarung memperebutkan kursi Presiden di Prancis adalah mengusir imigran terutama di daerah pinggiran.

White Supremacy ataupun istilah pribumi di Indonesia adalah gelombang yang timbul akibat arus global yang mempersempit kesempatan dan lapangan kerja disuatu negara. Faktor ekonomi ini juga yang memunculkan konsep rasis yang bermukim dibenak "mereka yang kalah".

Kasus Brendon Tarrant, warga Australia, yang menembaki jamaah masjid di New Zealand bisa jadi awal dari semakin meruncingnya masalah rasisme yang kelak akan menjadi masalah global pasca Arab Spring di Timur Tengah.

Kasus Brendon Tarrant seharusnya menjadi alarm bagi warga Indonesia terutama yang muslim yang sedang bermukim di suatu negara, bahwa situasi serupa bisa saja terjadi bukan hanya di New Zealand saja...

Terutama ketika para politisi menggunakan permasalahan itu untuk kepentingan politik mereka..

Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler